Selasa, 24 April 2012

Laporan Perjalanan Wisata ke Kabupaten Wonosobo


bray, ini ada sedikit draft laporan perjalanan kelompokku dan aku ke kab. Wonosobo, semoga bisa membantu kalian melengkapi laporan kalian....
WARNING!! Setelah baca tolong kasih comment-nya ya.... Thanks :D

KATA PENGANTAR

          Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, karena rahmad dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan laporan ini yang berjudul “Laporan Kegiatan Studi Wisata Tahun 2012 Tujuan Wilayah Jawa Tengah”. Laporan ini disusun sebagai bagian dari kelengkapan perjalanan wisata belajar yang dilaksanakan oleh SMA N 1 Sleman pada tanggal 24 Maret 2012.
          Dalam penyusunan laporan ini penyusun menyadari banyak terdapat kesalahan dan kesulitan yang disebabkan karena keterbatasan pengalaman penyusun, namun berkat bantuan dari beberapa pihak, maka laporan ini dapat terselesaikan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada: (1) Allah SWT. (2) Bapak/Ibu guru SMA N 1 Sleman yang telah membimbing dalam penyusunan laporan ini sampai selesai. (3) Orang tua yang telah memberikan bantuan moril.
          Semoga bantuan dan bimbingan yang telah diberikan kepada penyusun mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Terakhir penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat dan berguna bagi kita semua.
       


                    BAB I
Pendahuluan

A.     Dasar Kegiatan
         Dasar dari dilaksanakannya kegiatan studi wisata ini adalah surat keputusan kepala sekolah.
B.     Tujuan Kegiatan
1. Sebagai sarana penyegaran pikiran sebelum ulangan tengah semester
2. Sebagai sarana pembelajaran sekaligus hiburan siswa/i
3. Sebagai sarana mengenal keadaan geografis, budaya, dan iklim suatu wilayah

A.    Metode Pengumpulan Data

1.       Observasi/ Pengamatan
        Setelah kami mengamati objek-objek yang ada di Wonosobo, Jawa Tengah. Kami dapat menyimpulkan bahwa ternyata tempat tersebut sangat indah,dan memiliki kenampakan alam yg sangat menawan,serta potensi alam yang berlimpah, seperti pertanian, gas alam, dan objek wisata alam.
2.      Mencatat
        Mendengarkan lalu mencatat penjelasan dari narasumber, tour leader, ataupun pembimbing tentang sejarah suatu objek. Seperti ketika di pabrik teh tambi, kami mendapat berbagai macam penjelasan dari narasumber teh tambi, ketika di dalam bus Pembina menceritakan mitos tentang terbentuknya suatu tempat di daerah sana.
3.      Studi kepustakaan
        Pertama-tama kita melakukan kegiatan pengamatan terhadap objek dari kegiatan tersebut. Kami mendapatkan data-data dan keterangan yang penting untuk pembuatan laporan perjalanan. Setelah itu kita menguraikan tentang kegiatan pencarian data atau informasi dari bahan bacaan yang kemudian dijadikan sebuah laporan. Peran internet juga tak lepas dari pembuatan laporan ini.
4.      Bertanya  dan Wawancara
        Selama di sana ternyata kami bertemu dengan seorang bocah yang dianggap istimewa di wonosobo, tak lain adalah bocah berambut gimbal. Dengan penuh penasaran kami mencoba berkomunikasi santai dengan bocah itu.
        Ketika berada di pabrik teh tambi, kami berkesempatan bertanya tentang berbagai produk teh dan proses produksinya.

 
BAB II
Tinjauan Secara Umum Wonosobo
A.    Sejarah Singkat
          Bedasarkan cerita rakyat , pada sekitar awal abad 17 tersebutlah tiga orang pengelana masing-masing bernama Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik , mulai merintis suatu permukiman di daerah Wonosobo. Selanjutnya Kyai Kolodete berada di dataran tinggi Dieng, Kyai Karim berada di daerah Kalibeber dan Kyai Walik berada di sekitar kota Wonosobo sekarang ini.
          Di kemudian hari dikenal beberapa tokoh penguasa daerah Wonosobo seperti Tumenggung Kartowaseso sebagai penguasa daerah Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Selomanik. Dikenal pula tokoh bernama Tumenggung Wiroduta sebagai penguasa Wonosobo yang pusat kekuasaannya di Pecekelan - Kalilusi, yang selanjutnya dipindahkan ke Ledok - Wonosobo atau Plobangan sekarang ini.
          Salah seorang cucu Kyai Karim juga disebut sebagai salah seorang penguasa Wonosobo. Cucu Kyai Karim tersebut dikenal sebagai Ki Singowedono yang telah mendapat hadiah satu tempat di Selomerto dari Keraton Mataram serta diangkat menjadi penguasa daerah ini namanya berganti menjadi Tumenggung Jogonegoro. Pada masa ini Pusat kekuasaan dipindahkan ke Selomerto. Setelah meninggal dunia Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di desa Pakuncen.
          Selanjutnya pada masa perang Diponegoro ( 1825 - 1930 ) , Wonosobo merupakan salah satu basis pertahanan pasukan pendukung Diponegoro. Beberapa tokoh penting yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Misbach atau kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kertosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Kyai Muhamad Ngarpah.
          Dalam pertempuan melawan Belanda, Kyai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu Pangeran Diponegoro memberi nama kepada Kyai Muhamad Ngarpah dengan sebutan Tumenggung SETJONEGORO. Selanjutnya Tumenggung SETJONEGORO diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar TUMENGGUNG SETJONEGORO.
          Eksistensi kekuasaan SETJONEGORO di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah perang Diponegoro selesai. Disebutkan pula bahwa SETJONEGORO adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan kota Wonosobo sekarang ini.
          Dari hasil seminar Hari Jadi Wonosobo tanggal 28 April 1994, yang dihadiri oleh Tim Peneliti dari Fakultas Sastra UGM, Muspida, Sesepuh dan Pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Pimpinan DPRD dan Pimpinan Komisi serta Instansi Pemerintah Wonosobo yang telah menyepakati bahwa Hari Jadi Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825.

B.    Keadaan Geografis
      Secara geografi Kabupaten Wonosobo terletak antara 7o.11' dan 7o.36' Lintang Selatan, 109o.43' dan 110o.4' Bujur Timur. Kabupaten Wonosobo berjarak 120 Km dari ibu kota Propinsi Jawa Tengah dan 520 Km dari ibu kota negara (Jakarta) dengan ketinggian berkisar antara 270 meter sampai dengan 2.250 meter di atas permukaan laut.
      Kabupaten Wonosobo merupakan bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Wilayah Wonosobo terletak dibagian tengah-tengah dan berbatasan dengan beberapa kabupaten tetangga, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kendal dan Batang, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Magelang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan Purworejo, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Kebumen.. 

C.     Keadaan Sosial Ekonomi
            Menurut pengamatan kami, keadaan sosial masyarakat disana sangatlah solid, terbukti ketika kami akan memasuki kawasan dieng, ternyata jalanan macet dan padat dikarenakan orang-orang berduyun-duyun pulang setelah melakukan pengajian akbar.
            Keadaan ekonomi disana menurut kami, seperti kebanyakan daerah di Indonesia, seperti Kota Jogja dengan Gudheg dan Prambanan-nya, Bogor dengan puncak-nya, dan Dieng dengan kentang dan objek alam-nya. Mengandalkan objek wisata alam dan makanan khas sebagai pundi ekonomi.
            Wonosobo sering dijadikan tempat persinggahan untuk bersitirahat atau sengaja dikunjungi untuk berpariwisata, melihat keindahan alam ataupun mencicipi makanan-makanan khas Wonosobo ketika melakukan perjalanan jarak jauh melintasi Pulau Jawa. Embrio rest area mulai bermunculan di sekitar kawasan tersebut, kedai, restoran, hotel, motel, bengkel, SPBU dan ruko dibangun di beberapa tempat oleh perorangan untuk mencari keuntungan ataupun memenuhi kebutuhan kendaraan dan pengguna untuk bersitirahat dan memulihkan kondisi sambil memanfaatkan keindahan panorama pegunungan.

D.    Karakteristik Alam
            Kota Wonosobo adalah salah satu kota skala menengah Indonesia yang berpotensi untuk tumbuh dan berkembang saat ini dan masa mendatang. Wonosobo juga mempunyai banyak potensi pariwisata baik wisata alam maupun wisata budaya, seperti Dataran Tinggi Dieng, Agrowisata Tambi, Pemandian air panas Kalianget, dan masih banyak potensi-potensi wisata lainnya. Sebagian besar wilayah Kabupaten Wonosobo adalah daerah pegunungan. Bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung) terdapat dua gunung berapi: Gunung Sindoro (3.136 meter) dan Gunung Sumbing (3.371 meter). Daerah utara merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prahu (2.565 meter), mejadikan kota ini memiliki panorama alam yang sangat menarik.
            Sistem mata pencaharian penduduk Wonosobo adalah petani, sejak zaman sebelum dan setelah dengan pusat permukiman berkembang karenaadanya usaha manusia untuk mendiami daerah-daerah pegunungan yang suburdan mengembangkan daerah budidaya dengan hasil cocok tanam. BerdirinyaKota Wonosobo hingga sampai sekarang. Dengan daerah pegunungan, dancurah hujan tinggi, Wonosobo merupakan daerah yang agraris.

BAB III
Tinjauan Secara Khusus Objek Wisata

A.    Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau)
            Dataran tinggi dieng atau yang sering dikenal dengan sebutan Dieng Plateau terbentuk oleh kawah gunung berapi yang telah mati / tidak aktif. Sampai dengan sekarang aktivitas vulkanik dapat temukan, Seperti terdapat kawah sebagai keluarnya gas dan uap air. Aktivitas vulkanik di Dataran tinggi dieng mengeluarkan zat karbon dioksida, kadang kadang mengakibatkan bencana bagi masyarakat setempat. Seperti Kawah Sikendang, Sinila dan Timbang berpotensi mengeluarkan gas beracun.
            Pada Februari 1979, terjadi bencana di Kawah Sinila berupa ledakan besar dan mengeluarkan gas beracun CO2 dan H2S. Yang mengakibatkan 149 penduduk meninggal dunia. Pada tahun 1944, di daerah Djawera and Kepakisan-lor, Kepakisan, Sekalem, Sidolok, Pagerkandang terjadi letusan kawah sileri. Yang mengakibatkan 38 orang terluka dan 55 orang dinyatakan hilang.
            Pada Oktober 1939 dan Januari 2009 juga terjadi ledakan yang sama di dataran tinggi dieng. Disamping bencana yang ditimbulkan dari aktivitas vulkanik gas/uap panas bumi dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Disekitar kawah juga dapat diambil beberapa manfaat seperti sulfur yang dijadikan bubuk mesiu, korek api, insektisida  dan fungisida.

B.     Legenda Kawah Sikidang
Pada zaman dahulu ada sebuah istana yang besar di Dataran Tinggi Dieng, di huni oleh seorang ratu yang cantik jelita, yaitu Ratu Sinta Dewi. Pada suatu ketika Ratu Sinta Dewi akan dilamar seorang pangeran yang konon tampan dan kaya raya, yaitu Pangeran Kidang Garungan.

Namun, Ratu Shinta Dewi kecewa karena pangeran tersebut tidak setampan seperti yang diceritakan. Pangeran Kidang Garungan adalah sosok manusia berkepala kijang. Cara untuk menolak lamaran Pangeran Kidang Garungan, Ratu Shinta Dewi mengajukan syarat untuk dibuatkan sumur yang besar dan dalam. Ketika sumur hampir selesai dibuat, Ratu Shinta Dewi dan para pengawalnya menimbun sumur tersebut dengan tanah saat Pangeran Kidang Garungan masih berada di dalamnya.

Ketika sang pangeran berusaha untuk keluar dari sumur itu dengan cara mengerahkan segala kesaktiannya, sumur itu tiba-tiba menjadi panas, bergetar, dan meledak-ledak. Pangeran itu hampir saja keluar dari sumur, namun ratu dan para pengikutnya terus menimbun sang pangeran hingga tidak dapat keluar. Sang pangeran kemudian marah, lalu mengutuk Ratu Shinta Dewi dan keturunannya akan berambut gimbal. Bekas sumur Pangeran Kidang Garungan itulah yang kemudian menjelma menjadi Kawah Sikidang.


C.     Kawah Sikidang Dieng
            Ketika kami sampai disana, Alhamdulillah cuacanya sangat cerah dan langit biru terlihat dengan jelas. Berjalan di kawah ini memang tidak boleh sembarangan, pun harus melompat-lompat dan mencari tanah yang kering untuk menjejakkan kaki. Lubang-lubang bekas kawah terdapat dimana-mana. Di beberapa tempat terlihat tanah basah dengan air yang bergolak mendidih.
            Tanah-tanah ini berbahaya bila dipijak karena sangat rapuh dan mudah longsor. Bau belerang terasa sangat menyengat. Semakin jauh berjalan, baunya terasa semakin kuat dan menusuk hidung. Seorang wanita setengah baya berdiri di tengah padang tandus itu dengan mengenakan caping dan penutup hidung. Sebuah karung terhampar dengan bongkahan-bongkahan belerang ditata rapi diatasnya. Batu-batu itu dijual kepada para pengunjung sebagai souvenir khas Kawah Sikidang. Kawah ini memang masih menjadi nerg bagi para penduduk yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan menambang batu belerang. Meskipun baunya sangat menyengat, namun uap yang mengandung belerang ini dipercaya berkhasiat untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan jerawat.
            Menurut cerita, dulu ada seorang pengunjung yang nekat mengambil gambar dari bibir kawah terperosok kakinya dan jatuh. Ketika diangkat, kulit kakinya sudah meleleh dan tinggal tulang saja. Obyek wisata ini memang unik dan menarik, Anda harus selalu waspada mengingat kawah ini masih tergolong aktif.
            Kawah Sikidang memiliki dapur magma di dalam perut bumi di bawahnya. Dapur magma ini menghasilkan panas dan nergy dengan tekanan yang sangat kuat. Apabila tekanan ini mencapai puncaknya, maka akan terjadi letusan dan terbentuk sebuah kawah baru. Nama Kawah Sikidang diambil dari kidang dalam bahasa Indonesia = Kijang. Binatang ini memiliki karakteristik suka melompat lompat, Seperti halnya Uap air dan lava berwarna kelabu yang terdapat di kawah sikidang selalu bergolak dan munculnya berpindah-pindah bahkan melompat seperti seekor kidang / kijang.

BAB IV
Kunjungan Ke Pabrik Tah Tambi

            Dulunya (1885) perkebunan teh tambi merupakan milik Belanda yang dikelola oleh AW Holl Vandenberg. Setelah Indonesia merdeka, diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang selanjutnya setelah Konferensi Meja Bundar kembali diserahkan kepada pemilik semula. Tahun 1954 perkebunan dijual kepada NV/ PPN (Pegawai Perkebunan Negara) Sindoro Sumbing. Tahun 1954 NV / PPN Sindoro Sumbing bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Wonosobo mendirikan sebuah perusahaan baru bernama NV Tambi dan yang sekarang telah berganti nama menjadi PT Tambi. Luas areal PT Tambi meliputi 829,14 ha terdiri atas 3 unit perkebunan yaitu Unit Tambi, Unit Bedakah dan Unit Tanjungsari.
            Tiap hari dikerahkan kurang lebih 80 wanita pemetik pucuk teh dengan hasil bisa mencapai 100kg teh basah per orang. Sementara pucuk daun teh yang akan diolah dibedakan menjadi dua, yaitu pucuk peko dan pucuk burung. Pucuk peko biasanya menjadi bahan baku pembuatan teh yang berkualitas tinggi.  Produk utama berupa teh hitam (proses Full Frementation) dengan tingkat produksi per tahun sebanyak 1.800 - 2.000 ton. Selain itu juga memproduksi teh biasa (non-fermentation), dan teh oolong (setengah fermentasi).



           Lokasi perkebunan terletak di lereng sebelah barat Gunung Sindoro dan Sumbing di bagian tengah Jawa Tengah. Ketinggian 800 - 2.000 meter di atas permukaan laut dengan tingkat curah hujan 2.500 - 3.500 mm per tahun. Usaha PT Tambi tidak hanya perkebunan teh saja, melainkan juga agrowisata dan perternakan.
         

         I.            Pengolahan Teh Hitam
      Berdasarkan pengamatan kami, pengolahan teh hitam dipabrik ini menggunkan cara Orthodox, yaitu melalui 4 tahapan (pelayuan, penggilingan, oksidadi, pengeringan).
1. Proses Pelayuan, yaitu menggunakan kotak untuk melayukan daun (Whithering trought), merupakan kotak yang diberikan kipas untuk menghembuskan angin ke dalam kotak. Proses ini mengurangi kadar air dalam daun teh sampai 70%. Pembalikan pucuk 2 - 3 kali untuk meratakan proses pelayuan.

2. Proses Penggilingan, yaitu bertujuan untuk memecah sel-sel daun, agar proses fermentasi dapat berlangsung secara merata.

3. Proses Oksidasi. Setelah proses penggilingan selesai daun teh di tempatkan di meja dan enzim didalam daun teh akan memulai oksidasi karena bersentuhan dengan udara luar. Ini akan menciptakan rasa dan warna teh. Proses ini berlangsung sekitar 0,5 sampai 2 jam.

4. Proses Pengeringan, yaitu menggunakan mesin pengering & Fluid bed drier. Kadar air produk yang dihasilkan 3-5 % . 

 Dapat digambarkan dengan skema / bagan :